Fabiayyi aalaaa irobbikuma tukadzibaan, maka nikmat Tuhanmu manakah yang akan kau dustakan?
Catatan lepas, abis Isya
Saya ‘mak tratap” mendengar ayat ini dibacakan. Karena apa, karena sangat sering saya lupa akan apa yang telah Allah berikan kepada saya dan keluarga saya. Terlalu sering kami mengeluh. Belum punya rumah sendiri (masih tinggal di Pondok Mertua Indah), belum punya mobil, belum punya tv dan belum belum yang lain. Padahal kalau kita mau sedikit merenung, woooo begitu banyaknya nikmat Allah yang telah kita sandang.
Sekarang saya kemana-mana bisa naik motor. Walaupun masih kredit. Dulu….waktu sekolah dulu, naik sepeda ontel dari Pundong ke Jogja sejauh kurang lebih 40 km adalah hal yang biasa. Dan sekarang, hal itu tidak perlu terjadi, karena sudah ada motor. Tapi kok ya saya gak pernah merasakan motor itu sebagai sebuah nikmat dari Allah.Sehabis “ngepit” dari Pundong ke Jogja, saya ngekos di Pringgondani sebelah selatan STM. Dan di situ sudah terbiasa dengan tirakat. Bukan karena ingin tapi karena terpaksa. Kebiasaan “nggak makan” bisa saya anggap sebagai refresing. “Masak makan terus” itulah hiburan saya kalau lagi kurang duit buat beli makan. Indomie dibagi dua, o…itu sangat biasa. ..
Dan sekarang, makanan rutin terhidang tiga kali sehari di dapur (bukan meja makan lho, belum punya), tapi kok ya hati ini jarang terbuka, bahwa itu adalah nikmat dari Allah yang tiada terkira.
Bahkan malah terlalu sering saya membuang-buang makanan. Tidak ingat betapa dulu, merasakan sangat susah yang namanya macul, matun, nyeblak gabah. Walau itu statusnya membantu bapak. Hanya membantu saja capek apalagi yang kerja.
Saya hampir tidak pernah sadar, bahwa nasi yang terhidang itu adalah hadiah dari Allah, pilihan dari Allah untuk kita. Kalau kita membayangkan, beras yang datang dari padi di sawah yang di mana kita tidak tahu, kok yang bisa sampai ke rumah kita. Siapa lagi kalau bukan Allah yang mengaturnya.
Dan sekarang, saya selalu menganggap itu sebagai hal yang biasa, yang tidak perlu dipikirkan dan direnungkan.
Ah…masih terlalu banyak yang selalu kita anggap biasa. Padahal, disitu nikmat Allah ada dan seharusnya membuat kita tambah bersyukur, bukan tambah kemaruk.
Duh Gusti, kulo nyuwun pangapuro.
Hary
Mau nyebarin virus TBC dulu Ahhhhhhhhhhhhhhhhhhhh
Oleh: aswaja on Desember 3, 2007
at 11:24 am
Wah, baru aja mbuka.
taunya udah ada yang nyebarin tbc sejak 3 desember.
Tapi kok disebarin ya???
Oleh: azzamharry on Desember 15, 2007
at 2:27 am
Tahu tuh nyebarin kemana-mana tuh bang aswaja ini di arei n tempatku terus ditempat lain-lain di luar sana juga kulihat banyak di komentar2 tapi tulisannya sama plek nyebarin Takfir, Bid’ah, Churofat. Mungkin biar orang ngunjungin blog bang aswaja ini biar traffic-nya tinggi kali ya bang.
Oleh: aburifqi on Desember 16, 2007
at 10:50 am